Sinetron Ramadhan…benarkah bernafaskan islami???

<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Ramadhan telah usai, gemerlap idul fitri pun telah meredup iklannya di tv…

Tapi tak begitu halnya dengan sinetron-sinetron yang ada di televisi…

Sinetron-sinetron yang katanya bertajuk ramadhan masih bertengger manis sebagai acara televisi yang ratingnya lumayan tinggi….

Sinetron-sinetron tersebut dikatakan bertajuk islami, memberikan nuansa islami dan tak jarang terdapat banyak para ustadz dan ustadzah yang memeberikan prolog maupun epilog. Tak salah, karena prolog maupun epilog tersebut biasanya bersifat meluas alias nggak spesifik tentang lakon sinetron tersebut, namun yang ingin saya bahas kali ini adalah isi dan makna sinetron yang katanya sarat dengan ajaran islam tersebut…..

Entah siapa yang dulu memulai menjadikan ramadhan sebagai ajang pertelevisian indonesia untuk berlomba lomba menyajikan sinetron yang religius. Bahkan sinetron yang awalnya bukan bertajuk ramadhan pun diberi sisipan kata-kata sahur, tarawih, dan para pelakunya mengubah kata ‘ya ampun’ jadi ‘masya Allah’ atau ‘ya Allah’ atau ‘astagfirullah’…bila difikir lebih mendalam bukankah hal tersebut sangat lucu…

Ah sudahlah…

Yang ingin saya bahas disini adalah sinetron yang berjudul ‘ta’aruf’ dan ‘aqso dan madina’ yang beredar di salah dua televisi swasta. Saya sengaja nggak menutupi kedua judul tersebut agar banyak yang membaca opini ini. Dan agar penulis alur cerita atau entahlah apapun namanya, jangan asal nulis aja…. Karena banyak isi cerita yang janggal dan aneh. Cerita yang katanya sesuai dengan ajaran islam itu malah menjadi tidak sesuai dengan ajaran islam sama sekali.

Misalnya pada cerita Aqso dan Madina.

Saya akui, pemainnya sangat bagus bermain, namun isinya itu lho…

Seharusnya, jika benar si Aqso dan Madina ini ingin ridho ALLAH, seharusnya begitu mereka menikah dengan tujuan –sekali lagi—mencari ridho ALLAH, maka begitu mereka menikah, hal yang harus mereka utamamkan adalah istri dan atau suaminya.

Bukan malah pada doanya menomersatukan si orang lain itu.

Seharusnya, baik si Aqso dan Madina, setelah si Aqso ini menikah, tak lagi ada hubungan lain selain sebagai ipar. Tak semestinya kedua orang tersebut bertemu diam-diam, tak patut si Madina mengatakan ‘aku menikah dengan siapapun orang itu sama saja. Karena yang aku cintai itu adalah kamu, aqso…’

Waduh…waduh….

Dalam taraf ini, secara halus, ada pendidikan bagi para pemirsa untuk diajak—kata si Andra and The BackBone sih—main hati, dan jika secara kasarnya sih…SELINGKUH. MasyaAllah…naudzubillah….

Seharusnya, begitu kata ‘saya terima nikahnya….’ Orang yang paling harus diutamakan adalah suami bagi seorang istri dan sebaliknya, istri bagi seorang suami.

Duh, saya jadi bertanya…apa benar misi sinetron Aqso dan madina itu adalah sinetron ramadhan yang notabene bernafaskan islami??? Tanda tanya Besar!!!!

Lain halnya dengan ta’aruf.

Awalnya saya akui, saya sangat tertarik dengan sinetron ini. Dari judulnya, kemudian premier-nya yang ditayangkan bahwa sang tokoh utama adalah seorang wanita bercadar (saya pikir, sejak Film Ayat-Ayat Cinta beredar, wanita bercadar tak lagi jadi barang aneh, yang harus dilihat dengan mata bertanya-tanya sekaligus…ya ampunnn orang itu gitu banget sih…Yang ingin sekali saya berkata pada orang-orang tersebut ‘ih, biasa aza lagi…’). Sekali lagi wanita bercadar yang tentunya dia tak mau berjabat tangan dengan nonmuhrimnya, dan tak akan mau berpacaran dengan bingkisan sebagai ajang perkenalan biar bila nantinya menjadi suami-istri nggak dari nol.

Pada awal cerita, perselingkuhan yang terjadi antara sang tokoh utama, Fauzan dengan kekasih lamanya adalah sebuah intrik. Bukan berarti ini juga adalah dakwah, tetapi ini menggambarkan cerita yang memang dari awal si Fauzan ini tidak menge’embel’embel’ hubungannya dengan Feby, kekasih lamanya itu dengan bungkus ‘untuk mencari ridho ALLAH. Jadi, disini saya tidak menyalahkan pembuat cerita sama seperti kasus Aqso dan Madina.

Namun…. Akhir-akhir ini, pas saya melihat lagi, yang ternyata si Sakinah, wanita bercadar itu, sudah menikah dengan orang lain eh ternyata kebingungan dengan kehamilannya. Kebingungan ini sungguh aneh!!! Dia kebingungan menentukan anak siapa yang ada dikandungannya, apa anak dengan suami terdahulu atau anak dengan suami yang sekaranfg???

Aneh!!!! Kenapa??? Ya aneh, masak ada orang yang ngakunya mengerti islam kebingungan dengan ayah anak yang dikandung??? Saya sempat tertawa sambil menggeleng gelengkan kepala saya…

Sungguh, ini sang penulis cerita sudah kehabisan akal untuk meneruskan ceritanyakah sampai-sampai membuat persoalan yang ‘dipaksakan’ (dan ini juga sering terjadi di sinetron-sinetron indonesia yang lain. mengulur-ulur ending cerita karena berada dalam puncak rating dengan menambah nambah alur skenario yang dipaksakan).

Mengapa saya mengatakan ‘dipaksakan’? bagaimana tidak??? Dalam islam itu sendiri kita mengenal adanya ‘masa iddah’, yaitu masa dimana seorang istri tidak boleh dipinang dan menerima pinangan orang lain ketika dia dicerai (termasuk juga jika sang suami meninggal), selama 3 bulan. Masa iddah ini adalah tak lain diperuntukkan untuk menjaga agar bila sang istri ini mengandung, bisa jelas terlihat hukum selanjutnya yang akan dikenakan pada istri tersebut, yaitu tidak boleh menikah dulu sampai sang jabang bayi keluar. Dari masa iddah ini juga bisa membedakan dengan jelas siapa ayak bayi jika sang istri yang dicerai tersebut mengandung.

Yah, semoga saja bila dari sang penulis skenario ada yang membaca tulisan ini atau semua yang mebaca tulisan ini menjadi berfikir lagi tentang tayangan tayangan yang ada di televisi saat ini. Semoga saja (lagi) suatu saat ada era dimana sinetron yang berbobot menjadi rating tv yang teratas. Amin.

2 thoughts on “Sinetron Ramadhan…benarkah bernafaskan islami???

  1. Hmmm… Betul-betul betul…..
    Tapi anehnya nih…
    Kok banyak banget sih yang masih suka…
    Buktinya…dua sinetron itu masih tetep aja lanjut…
    Yang saya herankan…
    Si Bintang Filmnya itu lhoo…
    Apakah terikat kontrak ataukah memang tuntutan kebutuhan finansial yang membuat mereka tetp aja mau meneruskan membintangi sinetron yang sudah melenceng jauh dari cerita awal maupun dari agama lho….

    Buat temen smua…
    Sebenernya, bisa nggak sih kita ‘ngelurug’ ke siapa gitu, biar buat sinetron itu yang rada ilmiah…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s